11 Caro Cadiak, Pandai pandeka.api@gmail.com Angko-angko agak bara -

Cerita di Balik Kata, Kisah di Balik Bahasa

Sabtu, 31 Oktober 2015

Menentang Kayangan Bab 2 - Lepas Kendali

Penerjemah: Pandeka Api
Editor: Pandeka Api
*Pada bab ini ada beberapa perubahan istilah, jadi cuma memberitahukan. Mungkin saja di masa-masa yang akan datang akan ada perubahan-perubahan tanpa pemberitahuan. Untuk itu, mohon bisa dimengerti. He he he.
---------------------------------------------------
Bab 2 – Lepas Kendali

Saat itu, dia memakai pakaian pengantin berwarna merah dalam kamar yang penuh dengan tempelan kain bertulisan “kebahagiaan ganda”. Tadi malam, kakek dan bibinya secara langsung membuat itu semua. Kamarnya sudah berubah menjadi kamar pengantin.

Tiba-tiba pintu terbuka dan seseorang masuk. Dia adalah bibinya.

“Bi, apa kakek sudah kembali?” tanya Xiao Che setelah berdiri dan tersenyum.

Xiao Lingxi adalah putri Xiao Lie yang lahir sewaktu dia berumur separuh baya. Karena itu, putrinya tersebut baru berumur lima belas tahun dan satu tahun lebih muda dari Xiao Che. Cantik, cukup membuat orang jadi tertegun. Tenaga dalamnya berada di tingkat enam Tenaga Alam Dasar. Walau tak sebanding dengan Xiao Qingyue, tapi tidaklah dikatakan buruk, karena dia merupakan aset penting bagi Klan Xiao dan dipandang cukup tinggi.

“Oh, Che’er, kau akhirnya bangun.”

Sebuah suara lembut mengisi ruangan saat Xiao Lie masuk. Melihat Xiao Che tidak lagi terbaring dan berwajah normal, Xiao Lie sedikit lega. Di belakangnya diikuti penjaga rumah Xiao Hong dan tabib nomor satu di Kota Awan Apung, Tabib Seto.

“Baguslah kalau kau sudah bangun dan terlihat tidak sakit lagi, tapi biarlah Tabib Seto memeriksa ulang. Hari ini adalah hari pernikahanmu dan jangan sampai ada kesalahan sedikit pun. Tabib, silakan,” Xiao Lie beranjak memberi jalan.

Tabib Seto menaruh obat-obatannya di atas meja dan duduk di depan Xiao Che, lalu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan. Setelah beberapa saat, Tabib Seto melepaskan tangannya.

“Tabib, bagaimana keadaan Xiao Che? Apa ada yang gawat?” Xiao Lie bertanya cemas dan terlihat jelas di wajahnya.

Meski tak mengatakan apa-apa, matanya terlihat garang. Bagaimana tidak? Hilangnya kesadaran Xiao Che secara tiba-tiba adalah kejadian yang ganjil.

“Tetua Xiao, anda tidak perlu khawatir. Keadaan tubuh Xiao Che sangat baik. Tak ada kesalahan sedikit pun. Mungkin dia pingsan karena merasa sangat gugup dan gelisah hingga darahnya naik ke kepala. Siapa yang tidak, jika akan menikah dengan si cantik nomor satu di Awan Apung? Ha ha ha,” ucap Seto sembari tertawa.

Dalam tawanya, terdapat penyesalan. Penyesalan karena seorang gadis berbakat nomor satu di Awan Apung akan menikah dengan pemuda yang tak ada gunanya.

“Syukurlah,” Xiao Lie terlihat lebih lega. “Tabib Seto pasti merasa lelah karena bekerja dari pagi. Hong, antarkan beliau ke kamar tamu agar bisa beristirahat.”

“Tak apa,” Seto menjawab sambil kibaskan tangan dan mengangkat kotak obatnya. “Karena cucu anda baik-baik saja, saya mohon pergi. Selamat Tetua Xiao, mendapatkan cucu menantu seorang yang paling hebat di Kota Awan Apung. Saya tak tahu berapa banyak orang yang akan iri. Ha ha. Sampai nanti.”

“Anda harus datang saat acara pernikahan. Hong, antarkan Tabib Seto.”

“Che’er, apa kau baik-baik saja? Ada yang sakit?” Xiao Lie masih tak yakin setelah kepergian Seto dan pikirannya asi suram.

Saat Xiao Che pingsan, suhu tubuhnya menurun dan daya hidupnya memudar. Ini tak mungkin hanya karena rasa gugup. Melihat keadaan Xiao Che yang sehat sekarang, benar baik-baik saja, tapi Xiao Lie masih belum bisa menghilangkan sedikit keraguan dalam hatinya.

“Saya sungguh baik-baik saja, Kek. Tenanglah,” Xiao Che mengatakan dengan mimik santai. Hidungnya tiba-tiba serasa masam saat melihat Xiao Lie dengan wajah cemas, ditambah pula rambutnya uban semua.

Klan Xiao terdiri dari lima tetua dan walau Xiao Li merupakan yang kelima, dialah yang terkuat. Lima tahun lalu sudah mencapai batas Tenaga Alam Ruh tingkat sepuluh, dan sekarang berada pada puncaknya untuk bisa mencapai tahap selanjutnya. Tahap yang diimpikan banyak orang.

Xiao Lie baru berumur lima puluh lima tahun dengan tenaga dalam setinggi itu, tapi semua rambutnya sudah memutih. Tiap kali Xiao Che melihat ini, hatinya perih.

Alasan mengapa Xiao Lie menjadi demikian, sudah diketahui banyak orang. Disebabkan oleh satu-satunya putra yang dia miliki, Xiao Ying, ayah Xiao Che, disebut orang nomor satu berbakat di Awan Apung. Umur tujuh belas sudah mencapai Tenaga Alam Lahir. Umur dua puluh sudah sampai ke Tenaga Alam Lahir tingkat lima dan tiga tahun kemudian sudah mencapai Tenaga Alam Sejati, yang membuat geger Awan Apung. Dia juga menjadi kebanggaan Klan Xiao, begitu juga untuk Xiao Lie. Hampir semua orang percaya bahwa saat Xiao Ying mencapai setengah abad, dia memenuhi syarat untuk menjadi pemimpin klan.

Apakah bencana atau memang sudah takdir, terjadi percobaan pembunuhan rahasia terhadap Xiao Ying, tiga bulan setelah kelahiran Xiao Che. Beberapa hari sebelum itu, Xiao Ying juga menyelamatkan hidup seorang putri dari Klan Xiao. Setelah penyelamatan ini, Xiao Ying hanya bisa menghadapi para pembunuh dengan tenaganya yang tinggal setengah dan akhirnya tewas. Istrinya pun kemudian menyusul karena rasa pedih yang tak tertahankan. Rambut Xiao Lie menjadi putih dalam semalam karena hal ini. Sembilan bulan kemudian, Xiao Lingxi lahir. Ibunya juga menderita atas kehilangan putra satu-satunya dan meninggal sebulan setelah itu.

Tak ada yang tahu bagaimana Xiao Lie menjalani hidup setelah kepergian putra dan istrinya. Rambut pucat putihnya mengandung kedukaan mendalam, kebencian, dan penderitaan yang tak bisa dirangkai dengan kata-kata.

Sampai hari ini, Xiao Lie, masih belum menemukan pembunuh putranya.

Kemudian, dia menaruh harapan pada Xiao Che, namun ... kenyataan sangat pahit bahwa cucunya terlahir dengan pembuluh darah tenaga dalam yang rusak.

Bagaimanapun, dengan cucunya yang tak ada harapan ini, Xiao Lie tak pernah menunjukkan rasa kecewa atau marah. Dalam pandangannya, terlahir dengan pembuluh rusak adalah takdir yang tak adil dan tak perlu menyalahkan hal demikian. Jangan sampai dia menghiraukan atau mencemooh Xiao Che, namun harus menunjukkan rasa kasih sayang lebih untuk menutupinya. Selama bertahun, dia selalu mencari cara untuk memperbaiki pembuluh Xiao Che, tapi apakah semudah itu untuk memperbaikinya?

Walau Xiao Che tak dipedulikan, bahkan dipandang hina orang orang lain sejak kecil, dia masih merasa beruntung mempunyai kakek seperti Xiao Lie.

Melihat rambut putih Xiao Lie, mata Xiao Che menajam.

Karena takdir sudah memberikanku kesempatan kedua dan ingatan dari dua orang, meski hanya untuk menyenangkan hati kakeknya, aku harus hidup dengan penuh semangat! Apa masalahnya kalau pembuluhku rusak? Aku adalah penerus dari ahli tabib nomor satu; selama punya obat yang tepat, dalam waktu tiga minggu, aku bisa mengembalikan pembuluh yang rusak ini ke bentuk semula.

“Kau benar,” melihatnya, Xiao Lie merasa tenang. Kemudian dia pandangi langit dan berkata, “Che’er, hari sudah malam. Bersiaplah, sementara aku akan mengatur orang itu pernikahan. Oh, ya ... apa kau ingin menunggangi kuda atau dalam kereta kuda?”

Jika dia masih Xiao Che yang kemarin, pasti akan memilih naik kereta. Walau merupakan satu-satunya cucu dari seorang tetua, tanpa status itu, hanyalah orang yang tak berguna dan sangat jauh berbeda dari Xia Qingyue. Dalam perjalanan menuju pernikahannya, pasti banyak orang yang melemparkan cemoohan, makian, dan memandanginya penuh dengki dan penyesalan. Tak dapat dibayangkan bagaimana bisa menghadapi semua itu.

Xiao Che tertawa dan tersenyum ringan, “Tentu saja saya ingin menunggangi kuda! Kakek tak perlu cemas, Xiao Qingyue memang orang terpandang, tapi sebentar lagi akan menjadi bagian keluarga kita. Saya akan menikahinya terang-terangan dengan penuh martabat dan kebanggaan agar kakek tak hilang muka.”
(PA: hilang muka = malu, terhina, direndahkan.)

Ada sedikit perubahan raut di wajah Xiao Lie, karena tak pernah menyangka bahwa cucunya akan berkata demikian. Kemudian dia hanya tersenyum dan mengangguk pelan, “Bagus.”

Dengan satu kata itu, sudah melambangkan rasa puas dalam dirinya. Xiao Lie keluar dari kamar itu.

Begitu Xiao Lie pergi, Xiao Lingxi berdiri di depan Xiao Che dan mencibir. Wajahnya dibaluti rasa tak senang.

“Jadi kau kesenangan dengan pernikahan ini dan rasa khawatirku terasa percuma. Kau tak sesering itu bertemu dengan Xiao Qingxue, tapi sudah begitu menyukainya. Oh, benar ... dia adalah gadis tercantik di Awan Apung.”

“Bagaimana mungkin? Xiao Qingyue memang cantik, tapi bagiku Bibi Kecil lebih cantik. Jika karena kecantikannya aku sudah pingsan, sudah berapa kali aku jatuh pingsan sepanjang hidup karena Bibi selalu bersamaku setiap hari.”

“He he,” Xiao Lingxi tersenyum manis, “kau hanya pandai mengatakan hal-hal yang membuatku senang. Tak apa jika Xiao Che pingsan dan ingin segera menikahinya, karena Xiao Qingxue cantik dan berbakat. Klan Xiao juga merupakan klan terkaya di Awan Apung, jadi cukup banyak orang yang bermimpi menikahinya. Bagaimanapun, dia akan menikahi Xiao Che yang berasal dari keluargaku.”

Saat ini, wajah Xio Lingxi terlihat bangga, lalu tiba-tiba matanya berubah sayu.

“Hari ini datangnya cepat sekali. Xiao Che sudah akan segera menikah ....”

Tok tok.

Pintu diketuk dari luar dan diikuti suara dan penjaga rumah, Xiao Hongchang, “Tuan Muda, sudah saatnya untuk bertemu dengan pengantin anda.”

“Ah, sudah waktunya?” Xiao Lingxi menatap pakaian Xiao Che dan terlihat risau, “Paman Hong, tunggu sebentar, kami akan segera keluar.”

Dai berjalan mendekati Xiao Che dan sepasang tangan lembut mulai merapikan pakaian pengantin Xiao Che.

“Pakaian ini sangat sulit dipasangkan padamu. Sekarang sudah kusut karena kejadian tadi. Diam sebentar, akan kurapikan.”

Dua tangan seputih salju bekerja tergesa-gesa. Dia balikan kerah baju ke arah yang benar dan mengencangkan ikat pinggang yang mulai longgar. Tindakannya sedikit kaku, tapi dilakukan dengan sungguh-sungguh dan berhati-hati. Melihat ini, mata Xiao Che perlahan lembab.

Hari ini dia akan menikahi Xiao Qingyue, tapi dia tahu bahwa pernikahan ini bukan karena Xiao Qingyue mencintainya. Jika bukan karena perjanjian ayah mereka, Xiao Xing dan Xiao Hongyi, pada waktu itu, Xiao Qingyue mungkin tak akan mau meliriknya, peduli pun tidak. Di dunia ini, orang yang baik padanya hanyalah kakek dan bibi kecilnya.

Waktu kecil, Xiao Lingxi melekat pada Xiao Che seperti sepasang permen. Dia mengikutinya ke mana pun. Sulit baginya untuk menghindar. Jika tidak di dekatnya walau sebentar, Xiao Lingxi akan menangis keras. Bagaimanapun, saat Xiao Che berumur sepuluh tahun dan dipastikan bahwa pembuluhnya rusak, Lingxi seperti menjadi dewasa dalam semalam. Dia tahu apa konsekuensinya kalau pembuluh rusak dan paham akan posisinya sebagai “bibi kecil”. Saat inilah dia mulai melatih Tenaga Dalam untuk melindungi hidup si lemah Xiao Che.

Setelah “mimpi” di Benua Awan Biru, Xiao Che merasakan bahwa waktunya di sini bersama kebaikan Xiao Lingxi adalah sangat berharga.

Walau Xiao Qingyue akan menjadi istrinya, mungkin hanya akan bersikap dingin. Bisa dilihat, tak bisa digapai; seperti rembulan di langit malam.

Jika aku menikahi gadis seperti Bibi Kecil, alangkah sempurnanya ... pikiran seperti ini tak mampu dibendung oleh Xiao Che.

Setelah merapikan pakaian Xiao Che, Xiao Lingxi mendesau lega. Menjinjitkan kaki, dia rapikan pula rambut Xiao Che. Dengan wajah yang memancarkan kelembutan, bibirnya sedikit terbuka seperti kelopak bunga.

Dengan kecepatan yang tak disangka-sangka, Xiao Che majukan kepala dan menyentuhkan bibirnya ke bibir Xiao Lingxi.

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapanmu!

Kesulitan Membaca di Blog Ini?

Bagi kamu yang kesulitan membaca dengan format yang sekarang dan ingin mengubahnya atau mau lebih nyaman lagi, bisa klik alamat ini untuk tahu caranya.

Ingin Gabung?

Jika ada yang ingin bergabung sebagai penerjemah atau penyunting, baik itu untuk proyek yang ada atau pun proyek milik sendiri/baru, silakan hubungi kami.

Populer Seminggu Ini

Diubah oleh Pandeka Api. Diberdayakan oleh Blogger.