11 Caro Cadiak, Pandai pandeka.api@gmail.com Angko-angko agak bara -

Cerita di Balik Kata, Kisah di Balik Bahasa

Rabu, 21 September 2016

MK - 13

Penerjemah: TheUntrue
Penyunting: Pandeka Api
---------------------------------------------------
Bab 13 – Kabut Asmara Terlarang

“Um... Bibi Kecil, kenapa kaumelihatku seperti itu?” setelah menyadari bahwa situasinya berubah canggung, Xiao Che menahan napasnya sesaat sebelum bertanya dengan hati-hati.

Barulah kedua mata indah Xiao Lingxi, yang penuh linglung dalam waktu lama, bergetar sedikit. Dengan cepat dia mengubah tatapannya dan menundukkan kepalanya sembari berkata dengan lembut. “Apa kau tidak takut istrimu, Qingyue, akan mendengar apa yang kaukatakan barusan?”

Xiao Che berpura pura melihat ke kanan dan ke kiri, dan dengan polosnya berkata, “Tidak ada orang di sekitar kita, jadi kenapa kauharus takut? Tapi meskipun dia mendengar perkataanku barusan, aku tidak akan gentar. Kau kan tahu bahwa dia menikahiku bukan karena mencintaiku, dan mau tak mau pun aku harus menikahinya. Tapi jika dia adalah Bibi Kecil, mungkin aku...”

“Berhenti... Jangan bicara lagi!”

Xiao Lingxi mengulurkan tangannya dan meletakkannya di bibir Xiao Che, menghentikan perkataan Xiao Che. Setelah sekian lama barulah dia melepaskannya, dan sekali lagi tubuhnya bersandar pada bahu Xiao Che sembari berkata: “Adik Che, meskipun aku lebih muda darimu satu tahun, aku ini, adalah Bibi Kecilmu. Ada kata-kata yang pantas kaukatakan kepada gadis lainnya, tapi tidak kepadaku ... di kehidupan ini ... kau tidak boleh mengatakannya ... aku tahu di dalam lubuk hatimu, kaumenginginkan ini ... Tapi semua ini sudah cukup...”

Di dua kalimat terakhir, suara Xiao Lingxi mulai terdengar semakin pelan. Di dalam gumamannya terdapat kesedihan dan kekecewaan yang dapat membuat semua orang yang mendengar menjadi patah hati.

Hati Xiao Che juga bergetar hebat. Dia lalu tak mengatakan apa-apa lagi, memejamkan matanya, dan dengan saksama mendengarkan suara napas dan detak jantung gadis yang ada di sampingnya itu.

“Ketika aku masih kecil, aku ini kurus, hitam dan pendek. Semua orang memanggilku si buruk rupa dan selalu mengejekku, mengerjaiku ...” Xiao Lingxi merapatkan tubuhnya pada Xiao Che, suara yang indah kemudian berlanjut, “Hanya kau yang mau bermain denganku. Ketika seseorang mengerjaiku, Adik Che pasti akan berkelahi untuk membelaku. Kau selalu dipenuhi luka dan memar ... Luka yang kauterima saat itu, semua adalah karena aku. Aku menjadi terbiasa, dan selalu menikmati perlindungan dari Adik Che. Aku percaya kau akan selalu melindungiku...”

Kata-kata Xiao Lingxi mengingatkan Xiao Che kepada Xiao Lingxi yang masih kecil. Waktu itu, dia sangatlah kurus, hitam dan pendek seperti yang dia katakan, bisa dibilang dia sangatlah jelek. Tapi karena dia adalah Bibi Kecilnya, sebagai laki-laki, dan juga karena dia lebih tua satu tahun darinya, dia pasti selalu, layaknya itu adalah tugasnya, untuk melindunginya dengan seluruh kekuatannya... Siapa yang menyangka bahwa gadis muda ini telah berubah jauh dari ketika saat dia masih kecil. Yang dulunya buruk rupa telah berubah menjadi seorang bidadari. Tak ada yang tauh ada berapa banyak laki-laki di Klan Xiao yang berliur sambil merindukannya.

“Setelah itu, Adik Che menyadari bahwa pembuluh tenaga dalamnya telah rusak. Aku mulai berlatih tenaga dalam sekeras-kerasnya ... karena sekarang adalah giliranku untuk melindungi Adik Che. Waktu itu, aku berpikir, apakah Adik Che yang melindungiku, atau aku yang melindungi Adik Che, itu sama saja. Apa pun itu, yang terpenting kita selalu bisa bersama ... hingga akhirnya ketika aku mulai beranjak dewasa aku menyadari. Adik Che akan mendapatkan seorang istri, dan aku juga harus menikah. Di saat itu, kita tidak akan bisa seperti dulu... Ditambah lagi, dari semua wanita yang ada di dunia ini, wanita satu satunya yang Adik Che tidak bisa nikahi adalah aku ... dan dari semua pria yang ada di dunia ini, pria satu satunya yang tidak bisa aku nikahi adalah Adik Che...”

Xiao Che hanya terdiam.

“Setelah sekian lama, aku berpikir aku telah mampu menerima itu sepenuhnya. Hari ini Adik Che sudah menikah. Aku seharusnya sangat bahagia, tapi dari pagi hingga petang, aku merasa ada sesuatu mengganjal di hatiku. Itu terasa sangat sakit. Ketika aku ingin tidur, bermacam cara telah aku lakukan, tapi tetap saja aku tak bisa terlelap... dan Adik Che, setelah kau mengatakan kata-kata itu padaku... aku menjadi sangat bahagia, tapi juga merasa sedih ... apa yang telah terjadi padaku?”

Hati dan raga Xiao Che menjadi gusar. Walaupun dia terdiam cukup lama, dia juga tidak tahu apa yang harus dia katakan.

Kabut asmara terlarang yang dirasakan mereka berdua telah tercipta sejak lama. Ketika mereka telah menyadari perasaan yang terlarang ini, mereka masih terus bersama siang dan malam, namun tidak pernah mengungkapkan perasaan ini. Sebaliknya, di dalam hati mereka, mereka menganggap itu adalah kasih sayang antar saudara.

Xiao Che yang tanpa ingatan reinkarnasi dari Benua Awan Biru memiliki sifat pengecut dan rendah diri. Bahkan sampai mati, dia hanya akan berani menghindar dari mengungkapkan perasaan itu. Sehingga perasaan semacam itu terpendam selamanya. Xiao Lingxi ... tidak pernah mengungkapkan perasaannya selama ini, hingga sampailah pada hari ini. Tapi Xiao Che hari ini bukanlah Xiao Che yang dulu dan dia mengatakan kata-kata yang dapat menghancurkan bumi dan langit. Dalam menanggapinya, Xiao Lingxi yang ragu, di puncak bukit yang sepi di tengah malam ini, telah mengungkapkan semua perasaan terlarang yang tak berani dia katakan sebelumnya.

Jantung Xiao Che berdetak tidak karuan. Sembari menghirup aroma gadis yang menawan ini, dia menggerakkan lengan kanannya, lalu memeluk tubuh Xiao Lingxi dan berbaring. Tubuh Xiao Lingxi sedikit gemetar, tapi dia tidak menolaknya. Xiao Lingxi memejamkan matanya, sembari menimpa Xiao Che dengan seluruh tubuhnya

Tubuh gadis yang memesona ini sangatlah lembut, seperti tidak memiliki tulang layaknya batu giok yang hangat, harum dan lembut. Kulitnya yang halus seperti kain, walaupun terhalang oleh beberapa lapis pakaian, dapat membuat jiwa seseorang bergetar hebat. Xiao Che tidak berani memeluk erat tubuhnya, takut bila dia memeluknya terlalu erat Xiao Lingxi akan ketakutan bahkan terluka. Akan tetapi, tiba-tiba Xiao Che merasakan sepasang tangan yang seperti batu giok yang perlahan memeluk tubuhnya, seakan menginginkannya memeluk Xiao Che lebih erat. Aroma harum perlahan memasuki hidungnya dan masuk ke dalam relung hatinya.

Kesudian Xiao Lingxi menghilangkan keraguan di dalam hati Xiao Che. Dia lalu menggerakkan lengan kirinya untuk memeluk pinggang Xiao Lingxi yang ramping, tetapi tiba-tiba pikirannya membeku. Pergerakan lengannya tanpa sengaja berubah. Saat berhenti, tangannya merasa seperti memegang sesuatu yang menggunung, lembut dan hangat.

“Ah ...”

Xiao Lingxi mendesah. Pikiran Xiao Che tak karuan. Dia dengan cepat ingin melepaskan tangannya., tetapi tangan Xiao Lingxi yang memeluknya pertama kali telah menimpa lengannya. Awalnya, Xiao Che mengira Xiao Lingxi akan memukul tangannya yang telah menggaulinya, tapi ... tangan yang seperti giok itu hanya memegang telapak tangannya dan berhenti, terdiam, namun tak dapat membuat tangan Xiao Che untuk bergerak. Di antara dua payudara yang lembut itu, Xiao Che dapat merasakan detakan jantung Xiao Lingxi dengan jelas.

Embusan napas Xiao Lingxi sangat berat dan kasar. Wajahnya telah lama memerah hingga mencapai lehernya yang seputih salju. Xiao Lingxi memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya dalam-dalam di dada Xiao Che, dan tak bergerak, seolah olah untuk membuktikan bahwa dia telah tertidur pulas.

Xiao Che juga memejamkan matanya, sangat diam dan tanpa suara, mereka berdua memeluk satu sama lain dengan damai. Saat ini, tidak satu dari mereka mau berbicara ... karena itu dapat merusak suasana yang seperti mimpi ini.

Malam semakin larut. Ketika Xia Qingyue menemukan mereka, mereka masih dalam posisi yang sama, tapi telah tertidur dengan pulas.

Xia Qingyue keluar untuk mencari Xiao Che. Dia berpikir Xiao Che hanya keluar untuk sekedar mencari angina. Ketika keluar “mencari angin”, Xia Qingyue juga telah meninggalkan ranjang dan sudah menyiapkan selimut untuknya di sudut kamar, sehingga jika saat dia pulang nanti Xiao Che dapat tertidur pulas. Tapi setelah menunggu lama, Xiao Che masih belum pulang juga.

Tapi, dari suara yang dia dengar di awal, Xiao Che sepertinya telah memanjat dinding menuju ke pegunungan di belakang Klan Xiao.

Dengan tenaga dalamnya yang lemah dan hanya berada pada Tenaga Dalam Kelas Dasar Tingkat 1, dia berani pergi ke pegunungan, dalam waktu yang lama tanpa ada tanda-tanda kepulangan, ditambah di tengah malam buta seperti ini ... Xia Qingyue akhirnya tak kuasa menahan dan keluar mencarinya. Hingga akhirnya membuatnya melihat pemandangan yang membuatnya tercengang seperti orang bodoh itu.

Hari ini adalah hari pertamanya dan Xiao Che sebagai suami istri. Ketika dia menjemputnya di perjalanan menuju ke Klan Xiao, sikapnya yang tenang menunjukkan kebanggaannya. Di aula pernikahan, dia menahan amarah dan kebenciannya. Di kamar pengantin, meskipun dia berbicara sembarangan dan memiliki mulut yang vulgar, raut wajah dan tatapan di matanya  tak henti hentinya menunjukkan antara kebimbangan, ketidakrelaan dan keputusasaan. Dan bahkan terdapat kesunyian yang mendalam yang bahkan dirinya tak mampu menafsirkannya.

Tapi sekarang, Xiao Che yang mendekap Xiao Lingxi sedang tertidur dengan pulasnya. Sudut bibirnya terlihat terangkat sedikit, menunjukkan senyuman hangat. Kelima indranya terlihat sangat santai, raut wajahnya tenang, dan damai seperti bayi yang berada di pangkuan ibunya.

Mendadak, perasaan yang aneh timbul di hati Xia Qingyue ... tentu saja, ini bukan berarti dia memiliki perasaan terhadap Xiao Che. Tetapi dia dan Xiao Che telah menjadi sepasang suami istri. Dia selalu menganggap bahwa pernikahan ini hanyalah suatu formalitas baginya, dan status suami dan istri juga hanya sebatas gelar, dan tak akan ada apa pun yang bisa membuat hatinya tergerak. Akan tetapi, untuk beberapa hal, hati tak selalu mengikuti pikiran seseorang. Dan tentunya ini sangat benar untuk seorang wanita, yang tentunya cenderung berperasaan halus, terkecuali mereka tidak memiliki hati.

Lagi pula, dia dan Xiao Che telah menjadi suami istri, meskipun, dia menganggap, dia tidak peduli dengan hal semacam ini, tapi kenyataan bahwa Xiao Che sekarang adalah suaminya tentu telah tertanam di lubuk hati dan pikirannya. Karena dia adalah suaminya, seharusnya dia hanya boleh dimiliki oleh Xia Qingyue. Akan tetapi, pada malam pertamanya, dia malah memeluk wanita lain hingga mereka berdua tertidur pulas, dan bahkan dengan raut wajah yang puas dan hangat ... Tentu saja tanpa disadari dia akan merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya.

Meskipun bila gadis itu adalah Bibi Kecilnya.

Perasaan yang tidak mengenakkan ini membuatnya hatinya yang seperti es itu sedikit terguncang. Perasaan jengkel ini membuatnya terbangun dari lamunan dan bergegas menajamkan indranya untuk menenangkan hati. Setelah cukup lama, perasaan seperti duri itu perlahan menghilang dan hatinya perlahan menjadi tenang.

Dia tidak mengganggu Xiao Che dan Xiao Lingxi, dengan langkah kaki yang ringan, dia kemudian pergi tanpa suara.

Selang beberapa waktu, Xia Qingyue kembali, dengan selimut merah di lengannya. Perlahan dia menyelimuti tubuh Xiao Lingxi dan Xiao Che dan sekali lagi pergi tanpa suara.

 ... ... ... ...

Ketika Xiao Che terbangun, hari sudah subuh. Di dadanya, Xiao Lingxi masih terlelap, dan gaya tidurnya terlihat sangat manis ... Itu kalau seseorang tidak menghiraukan bekas liur yang besar di dadanya.

Kantuknya perlahan menghilang, dan sedikit demi sedikit, kejadian tadi malam terulang di pikiran Xiao Che. Meskipun bahunya sedikit mati rasa dan pegal setelah semalaman. Dia tidak berani bergerak sedikit pun, takut mengganggu tidur Xiao Lingxi. Dan pada saat itu juga dia menemukan selimut merah yang menyelimuti tubuhnya.

“Waduh ... Mampus ...” perlahan dia mengangkat tangannya untuk memegang selimut itu sembari suara panik dan sumpah serapah yang rendah keluar dari mulutnya ... ini jelas-jelas adalah selimut yang telah disiapkan kemarin, dan telah diletakkan di ranjang kamar pengantin.

Xiao Che menatap ke arah kediamannya, hatinya melepaskan raungan kecil ... pada malam pengantinnya, tidak hanya dia tidak berada di kamar pengantin, tapi dia juga tidur dengan wanita lain, semalaman. Dan istri barunya sendiri telah datang untuk menyelimuti mereka.

Skenario ini... Sungguh MENGERIKAN!

0 komentar:

Posting Komentar

Berikan tanggapanmu!

Kesulitan Membaca di Blog Ini?

Bagi kamu yang kesulitan membaca dengan format yang sekarang dan ingin mengubahnya atau mau lebih nyaman lagi, bisa klik alamat ini untuk tahu caranya.

Ingin Gabung?

Jika ada yang ingin bergabung sebagai penerjemah atau penyunting, baik itu untuk proyek yang ada atau pun proyek milik sendiri/baru, silakan hubungi kami.

Populer Seminggu Ini

Diubah oleh Pandeka Api. Diberdayakan oleh Blogger.