11 Caro Cadiak, Pandai pandeka.api@gmail.com Angko-angko agak bara -

Cerita di Balik Kata, Kisah di Balik Bahasa

Rabu, 15 Juni 2016

MK - 8

Penerjemah: TheUntrue
Penyunting: Pandeka Api
---------------------------------------------------
Bab 8 – Malam Pertama

Xia Qingyue tidak bertanya lagi. Karena menurut wanita berjubah dengan kemampuan dan status yang tinggi bahwa semua itu “tidak mungkin”, maka kemungkinan kecil sekali pun sudah hilang.

“Qingyue, aku tahu bahwa kau sangat ingin membalas budi sejak nyawamu telah diselamatkan sewaktu kecil, sampai-sampai kaumenunda kepulanganmu ke Surgaloka Awan Beku, tapi denganmu menikahinya itu seharusnya sudah cukup untuk membalas semua itu. Ketika kau kembali ke Surgaloka Awan Beku, identitasmu akan terbongkar. Walaupun dia akan mengalami hinaan yang lebih parah setelah kaupergi, statusnya sebagai suami dari murid sekte Surgaloka Awan Beku tetap bertahan. Setidaknya di Kota Awan Apung yang kecil ini, dengan status yang tinggi itu, tidak akan ada seorang pun yang berani untuk melukainya secara fisik,” wanita berjubah putih itu berkata dengan nada yang membuat nyaman.

Xia Qingyue mengangguk perlahan, “Aku harap begitu.”

“Pembuluh tenaga dalamnya rusak dan dia tidak memiliki kelebihan lain. Dia tak akan bisa untuk mencapai sesuatu yang berharga mungkin untuk sampai mati. Tapi kau sangat cantik dan cerdas. Talenta sepertimu hanya terlahir sekali dalam ratusan tahun. Jika tidak, Ketua pasti tidak akan membiarkanmu untuk melanggar aturan dan mengizinkanmu menikah. Menikahimu adalah keberuntungan dan kebahagiaan terbesar di dalam hidupnya. Kaumengambil tindakan seperti ini sangatlah bijak. Jika ayahnya masih hidup dan cukup bijak, tentu dia akan membatalkan pernikahan ini. Aku harus pergi. Aku akan menjemputmu satu bulan kemudian. Selama waktu yang kuberikan ini, aku tak akan berada jauh. Jika kaumenemukan masalah yang tak dapat kauatasi, beril kabar.”

“Aku ucapkan selamat tinggal pada guru.”

Wanita berjubah putih itu membalikkan badan. Sesaat, wajah cantik dan sedikit dingin terlihat. Dia tak berdandan karena kulitnya sehalus dan seputih batu giok salju. Orang-orang pasti akan mengucapkan “Sebening Es dan Seputih Salju” dan “Wajah cantik bak bidadari” untuk menggambarkan bila melihat wajah aslinya. Semua yang terdapat di wajahnya sangatlah indah hampir sempurna. Sangat menggoda hingga membuat semua orang tak akan berani untuk melihat. Semua orang akan berpikir dia sangat suci karena terlihat sangat mulia. Dia seperti bidadari yang turun dari Nirwana, tidak tercemar sedikit pun dari semua yang ada di dunia fana.

Dia membuka jendela dan tubuhnya sedikit bergoyang. Layaknya dikawal oleh roh-roh es yang tak kasatmata, seolah terlihat memudar tepat di mana dia berada.

Aula Utama Klan Xiao, ruangan yang ramai.

“Paman Ketujuh Liu, mari bersulang,” Xiao Che dengan hormat menyediakan gelas di depan lelaki separuh baya.

Lelaki ini yang dikenal dengan Paman Ketujuh Liu ini berdiri sambil mulai tertawa. Dia mengangkat gelasnya dan mulai menghabiskan minuman itu. Dia berkata sembari tertawa, “Keponakanku, aku adalah teman terdekat ayahmu, sekarang aku telah melihatmu berumah tangga dan menikahi istri yang sangat teramat cantik hatiku sangat bahagia.”

“Terima kasih, Paman Ketujuh Liu.”

“Tetua Pertama, mari bersulang.”

Tetua Pertama Klan Xiao mengambil gelas itu dan minum semuanya sekali teguk. Dia lalu menghempaskan gelas itu ke atas meja. Selama acara ini, selain hanya mengeluh “hmph” dari hidungnya, dia tidak mengatakan sepatah kata pun ataupun menatap mata Xiao Che. Bahkan hanya dengan sikap seperti itu, meminum arak yang disediakan telah memberikan banyak muka kepada Xiao Che.

Xiao Che tidak mengatakan apa pun dan berpindah ke meja berikutnya. Baru saja dia berjalan dua langkah ke depan, Xiao Li meludah ke lantai dan mulai membuka mulutnya dan mengeluarkan sumpah serapah yang dapat didengar oleh Xiao Che, “BAH! Bunga yang begitu cantik malah ditanam di atas tahi.”

Raut wajah Xiao Che tidak berubah. Langkah kakinya tak terganggu sedikit pun seolah tak mendengar sumpah serapah itu. Dia terlihat seperti itu jika tak melihatnya secara saksama, karena jika dilihat secara saksama tatapan matanya menajam dan kebuasan mulai menumbuh namun tersembunyi dibalik semua itu.

Dia datang mendekati Tetua Kedua, Xiao Bo. Xiao Che membungkuk sedikit: “Tetua Kedua, Xiao Che memohon untuk bersulang.”

Xiao Bo tidak menghiraukan Xiao Che namun dia membuka mulutnya dan berkata: “Cucuku Yang, bantu aku meminum itu.”

“Baik Kakek,” Xiao Yang menjawab tanpa ragu. Dia mengambil gelas yang ditawarkan oleh Xiao Che dan meminum semuanya, dengan bunyi “gluguk”.

Segelas arak yang ditawarkan kepada tetua namun diminum oleh cucunya tidak hanya menunjukkan penghinaan. Namun itu adalah semacam penghinaan publik. Setelah meminum arak itu, Xiao Yang meletakkan gelas dan kembali ke tempat duduknya, tatapan matanya menunjukkan rasa remeh dan hina.

Xiao Che kembali tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya mengangguk sedikit dan bergerak ke meja berikutnya. Seperti sebelumnya, sesaat dia mengambil langkah kedua, cercaan yang hina kembali ia dengar: “Hmph, sampah tetaplah sampah. Bahkan jika sebuah sampah tergabung dengan Klan Xia, sampah hanya akan menjadi sampah. Jadi Xiao Lie si tua brengsek itu akan bergantung pada menantu cucunya? Bah!”

Suara itu mengandung hinaan yang keji, kasar, dan tentu saja rasa iri. Jika seseorang Bahkan tanpa menyebut harta kekayaan Klan Xia, seseorang masih bisa membanggakan tentang kemampuan Xia Qingyue yang menakjubkan. Jika Xia Qingyue tidak menikahi Xiao Che tapi malah menikahi cucunya, Xiao Yang, gelak tawanya yang selama ini dia impikan mungkin akan terdengar sangat keras.

Xiao Che berpura-pura tidak mendengar itu dan berjalan sambil tersenyum.

Xiao Che menyelesaikan acara bersulangnya dan mengucapkan selamat tinggal pada para tamu. Malam panjang acara pernikahan telah usai. Selama prosesi acara, tamu-tamu yang menunjukkan rasa bahagia dan memberikan selamat secara ikhlas kepada Xiao Che dapat dihitung dengan seluruh jari tangannya. Semua orang yang hadir sangat sopan kepadanya, lagi pula ini adalah hari pernikahannya, tapi jelas-jelas dia melihat rasa hina di balik semua tatapan mereka. Beberapa orang mengeluh, beberapa orang merasa iri dan marah. Sisanya menyembunyikan cemoohan dan pikiran negatif seperti “sampah” dan “tak berguna” yang bisa dilihat dari raut wajah mereka.

Pembuluh tenaga dalamnya rusak itu adalah kenyataan yang membuatnya tidak bisa mencapai kesuksesan di sepanjang perjalanan hidup. Jadi mereka tidak perlu menjadi teman ataupun harus merasa sopan dengan Xiao Che. Mereka tidak peduli jika mereka menyinggungnya karena meskipun dia merasa tersinggung, Xiao Che tidak bisa melakukan apa pun dengan pembuluh tenaganya yang rusak. Di depan orang yang tak berguna ini mereka bisa seenaknya dan tidak peduli, mereka siap menunjukkan kekuatannya. Mereka merasa diri mereka kuat di hadapan Xiao Che, karena Xiao Che tak akan pernah bisa melampaui mereka.

Itu adalah sisi gelap dari sifat manusia.

“Istirahatlah lebih awal hari ini,” Xiao Lie menepuk bahu Xiao Che dengan senyuman lembut di wajahnya.

Xiao Che tidak mengetahui apa yang tersembunyi dibalik senyuman kakeknya saat ini.

Saat Xiao Lie bertambah tua, emosinya perlahan mereda. Namun ketika dia masih muda, Dia seperti minyak yang sangat gampang untuk dinyalakan. Jika seseorang membuatnya marah, dia akan membuat orang itu sepuluh kali lebih marah dibandingkan dia dan tak ada seorang pun yang berani mencoba menghasutnya. Xiao Che sangat mengenal emosi kakeknya mereda bukan karena usianya, namun melainkan karena dirinya.

Demi melindungi cucunya yang tak berguna, dia harus berubah menjadi seorang yang lembut dan bermurah hati. Bahkan jika dipandang rendah, namun tidak sampai melewati batas, dia tetap akan menahan amarahnya sesabar mungkin. Dengan cara ini, tidak akan ada musuh yang akan kembali untuk membalaskan dendam kepada cucunya setelah dia meninggal.

Sebagai orang terkuat di Kota Awan Apung, Tetua Kelima yang semua orang pernah takuti dahulu, sekarang tidak dihormati ataupun ditakuti oleh tetua lainnya. Hal ini juga sama terjadi dengan generasi yang lebih muda.

Melihat Punggung Xiao Lie, wajah menghina dan cerca serta makian terbayang di pikiran Xiao Che. Xiao Che mengepalkan tangannya sekerasnya sehingga menjadi sangat pucat. Tatapan matanya menajam dan memancarkan ilusi layaknya pedang yang sangat tajam. Kemudian, bibirnya perlahan membuka dan menunjukkan sebuah senyum yang membuat bulu kuduk merinding.

Xiao Che adalah orang yang pendendam. Sebagai seorang yang bisa menahan dendam dalam waktu yang lama, dalam enam tahun silam sewaktu dia berada di Benua Awan Biru, hatinya yang dipenuhi dengan kebencian mengingat semuanya. Dia ingat dengan semua orang yang baik kepadanya begitu juga dengan orang yang tidak suka kepadanya. Dia menyimpan itu jauh di dalam hatinya ... sampai waktu di mana dia bisa membalaskan dendam bahkan hanya untuk kesalahan sepele.

“Kalian ... akan ... menderita.”

Suara seperti bisikan iblis perlahan keluar dari mulut Xiao Che layaknya kutukan yang mengerikan.

Semenjak Kayangan telah memberikan kesempatan untuk terlahir kembali, bagaimana aku bisa membiarkan aku dan kakekku menderita dengan semua ini!

Kembali ke kediamannya, bulan telah menggantung tinggi di langit. Xiao Che berjalan ke pojok halamannya dan merentangkan tangan kirinya. Tiba-tiba, panah air menembak keluar dari telapak tangannya.

Di acara pernikahannya hari ini, dia tidak bisa menghindar dari meminum banyak arak. Dan pada akhirnya, dia terlalu banyak minum sehingga terlihat seperti orang yang tidak bisa berdiri. Tapi nyatanya, dia sangat sadar. Ini bukan karena dia mampu untuk menahan mabuknya tapi ini karena Mutiara Racun Langit. Semua arak yang telah ia minum dipindahkan ke dalam Mutiara Racun Langit. Semenjak mutiara itu telah menyatu dengan tubuhnya, dia dapat menguasainya layaknya itu adalah bagian dari tubuhnya.

Suara *Srrrrrrssssss* terdengar cukup lama hingga semua arak telah dibuang dari Mutiara Racun Langit. Xiao Che mengangkat tangan kirinya yang basah oleh arak dan menyeringai. Dia melumuri arak ke wajahnya dan menahan nafas sehingga wajahnya berubah menjadi merah. Tersandung, dia membuka pintu kamarnya lebar-lebar seraya sempoyongan ke kanan dan ke kiri, layaknya orang mabuk.

Pintu telah terbuka dan bau arak tercium dari Xiao Che sembari dia sempoyongan masuk ke dalam kamar dan terlihat seperti dia bisa saja tersandung saat itu juga. Dengan canggung dia mengangkat kepalanya dan menatap Xia Qingyue. Xia Qingyue duduk di atas tempat tidur dengan mata yang tertutup. Kamar itu sangat sunyi. Cahaya lilin yang redup menerangi paras cantiknya yang lembut, menambah godaan nafsu yang misterius yang membuat seseorang hilang kendali.

Kedua mata Xiao Che bersinar dan kakinya bergetar sambil berjalan ke arah Xia Qingyue, “He he he, Istriku ... aku telah membuatmu menunggu lama. Marilah ... sekarang kita bisa ... menikmati malam pertama.”

Xia Qingyue tiba-tiba membuka matanya dan melambaikan tangan kanannya dengan santai.

Kekuatan yang sangat dingin mendadak menghantam Xiao Che dan mendorongnya keluar dari pintu. Xiao Che jatuh terduduk dan hampir saja merobohkan meja batu yang ada di halaman.

Xiao Che menyeringai dan menggosok bokongnya. Butuh banyak tenaga untuk bisa bangun dan dia berteriak dengan amarah, “Sial! Aku hanya bercanda, kau tak perlu setega itu! Aku sangat lemah tapi kau menghantamku dengan kekuatan penuhmu. Semua orang nanti berpikir kauberencana untuk membunuh suamimu.”

Pintu itu kemudian dibanting tertutup.

Xiao Che mencoba mendorong namun menemukan pintu itu telah tertutup rapat.

Xiao Che kemudian menjadi depresi. Gadis ini, jangankan untuk gombal, bahkan candaan saja dianggap sangat serius! Bisakah aku hidup bahagia seperti ini?

“Sungguh aku hanya bercanda. Lagi pula, aku hanya memiliki tenaga dalam kelas dasar tingkat pertama. Jika aku ingin melakukan sesuatu padamu, itu sangat tidak mungkin.”

Xia Qingyue tidak menjawab.

Xiao Che berdiri di depan pintu untuk waktu yang lama namun pintu itu tak menunjukkan tanda-tanda akan dibuka. Kediaman kecil Xiao Che hanya memiliki satu rumah.  Jangankan menyebut dia memiliki kamar lain, dia bahkan tak memiliki kamar pelayan ataupun kandang kuda. Jika ini seperti hari lainnya, dia bisa dengan santai menyelinap ke kediaman bibi kecilnya untuk menumpang tidur. Tapi malam ini adalah hari pernikahannya, jadi sangat tidak pantas jika dia tidur di tempat lain.

Embusan angin malam semakin dingin, Xiao Che menggigil dan dia terlihat seperti mengecil. Dia mengetuk kembali pintu itu dan berkata dengan lemah: “Hei, kau tidak benar-benar membiarkanku tidur di luar, bukan? Kau harus tahu bahwa banyak orang dari Klan Xiao yang ingin mendapatkanmu. Mereka sangat kecewa karena malam ini adalah hari pernikahan kita. Mereka telah menyadari seseorang yang berkemampuan sepertimu tentu saja tidak akan membiarkanku untuk menyentuhmu bahkan jika kita telah menikah, jadi mereka pasti menunggu sesuatu terjadi padaku sebagai bahan tertawaan untuk menghinaku. Jika mereka melihat aku kau kunci di luar, selamanya aku akan ditertawakan oleh mereka.”

“Apa pun yang terjadi, aku tetaplah suamimu. Apakah kau tega melihatku dihina nanti?”

Kamar itu masih saja sunyi. Sesaat ketika Xiao Che ingin mendobrak pintu itu, pintu itu perlahan terbuka.

Xiao Che masuk secepat kilat dan menutup pintu itu dengan suara *bang*.

Xia Qingyue masih berada di tempat tidur dengan sikap yang sama seperti sebelumnya. Walaupun dia duduk di tempat tidur, dia mengeluarkan keanggunan layaknya bidadari. Matanya perlahan bergerak, menatap kepada Xiao Che yang tengah gugup dengan suara pelan, “Kau tidak boleh mendekatiku sebanyak lima langkah dariku.”

“Lalu, di mana aku bisa tidur?” Xiao Che mengelus dagunya. Kamar itu sangat kecil; di dalamnya hanya ada ranjang, meja baca, meja makan dan dua lemari. Jika seseorang berjalan dari barat ke timur melewati kamar itu, itu hanya sebesar tujuh atau delapan langkah.

“Kau tidur di ranjang,” Xia Qingyue mulai berdiri dari ranjang.

“TIDAK PERLU!” Xiao Che menolak dengan pasti dan duduk di pojokkan kamar jauh dari Xia Qingyue dan menutup matanya. Walaupun Xia Qingyue mungkin seratus kali lipat lebih kuat dari dirinya, harga dirinya sebagai laki-laki menolak untuk membiarkan seorang gadis tidur selain di atas ranjang jika dia punya pilihan.

  2 komentar:

Berikan tanggapanmu!

Kesulitan Membaca di Blog Ini?

Bagi kamu yang kesulitan membaca dengan format yang sekarang dan ingin mengubahnya atau mau lebih nyaman lagi, bisa klik alamat ini untuk tahu caranya.

Ingin Gabung?

Jika ada yang ingin bergabung sebagai penerjemah atau penyunting, baik itu untuk proyek yang ada atau pun proyek milik sendiri/baru, silakan hubungi kami.

Populer Seminggu Ini

Diubah oleh Pandeka Api. Diberdayakan oleh Blogger.